Indonesia akan Optimalkan Penggunaan Gas dan Geothermal
"Kementrian Energi dan Sumber Daya Minderal menargetkan untuk melakukan optimalisasi penggunaan bahan bakar gas di Indonesia mulai tahun depan. Hal ini sebagai salah satu upaya untuk mengurangi peningkatan biaya subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang harus di keluarkan pemerintah.
Selain itu, optimalisasi penggunaan bahan bakar gas juga sebagai salah satu antisipasi akan keterbatasan bahan bakar dari fosil. Menteri Energi dan Sumber Daya Minderal Jero Wacik di Denpasar, Bali pada Kamis siang (15/12) mengungkapkan pemerintah juga akan lebih mengoptimalkan pemanfaatan energi geothermal, sebab selama ini harga energi listrik yang berasal dari minyak cukup mahal.
Padahal Indonesia memiliki potensi sumber energi geothermal yang cukup melimpah. Belum lagi harga energi listrik dari geothermal hanya 8 sen dolar Amerika per Kwh, dibandingkan harga energi listrik dari BBM yang mencapai 40 sen dolar Amerika per Kwh.
Jero Wacik mengatakan, “Kita harus good bye pada BBM, tetapi tidak bisa langsung sekarang, mobil kita, motor kita semua pake BBM, listrik kita juga, pelan-pelan harus ditinggalkan, kemana kita? Ke energi yang lain yaitu gas. Kita punya gas banyak sekali.” .... (dst)
sumber: voanews
Saya tertarik dengan berita VOA dengan judul “Indonesia akan Optimalkan Penggunaan Gas dan Geothermal” karena tugas final saya baru-baru ini membahas mengenai perusahaan milik negara yang mengelola minyak bumi dan energi ini:p . Maka atas alasan kedekatan emosional yang telah terjalin saya akhirnya memilih mereview berita ini.
Berdasarkan data yang ada, Indonesia termasuk salah satu penghasil minyak bumi terbesar di dunia. Namun beberapa tahun terakhir ini cadangan minyak bumi mulai berkurang akibat pemakaian yang terus meningkat. Sehingga meskipun Indonesia penghasil minyak bumi terbesar namun ternyata kita tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Akibatnya Indonesia harus mengimpor dari luar. Sebenarnya hal ini juga dirasakan di negara-negara lain, bahwa dalam beberapa waktu ke depan cadangan minyak bumi akan habis. Karena itulah semua pihak berusaha mencari alternatif lain yang bisa menggantikan peran minyak bumi dalam memenuhi kebutuhan. Diantara pilihan yang muncul adalah energi non fosil; gas bumi, panas bumi (geothermal), batu bara, air panas. Hasil penelitian membuktikan bahwa energi terbarukan ini memiliki sifat yang lebih menguntungkan dibandingkan minyak bumi karena ramah lingkungan, tidak akan habis terpakai (renewable), dan potensinya di dalam bumi sangat besar.
Di Indonesia, potensi energi geothermal sangat besar dan belum dimanfaatkan dengan maksimal. Karena itu dalam berita yang ditulis VOA, Menteri ESDM Jero Wacik mengatakan akan segera mengoptimalkan penggunaan bahan bakar gas dan geothermal. Optimalisasi penggunaan bahan bakar gas sebagai antisipasi dari keterbatasan bahan bakar minyak, sedangkan pemanfaatan energi geothermal karena potensinya yang melimpah dan harganya yang lebih murah.
Namun disamping ramainya dikabarkan berita mengenai geothermal dan gas ini, mungkin ada baiknya jika kita meninjau tidak hanya keuntungan yang diberikan tapi juga dampak negatif yang muncul sehubungan dengan eksplorasi energi alternatif yang dilakukan di Indonesia.
Energi geothermal adalah solusi terbaik dalam mengantisipasi semakin berkurangnya cadangan minyak bumi yang dimiliki Indonesia sehingga pemerintah mulai memberikan perhatiannya terhadap pemanfaatan energi alternatif ini. Namun disamping keunggulan yang dimiliki, terdapat beberapa permasalahan yang muncul sehubungan dengan eksplorasi ini. Hal ini disebabkan karena potensi geothermal 70% berada pada daerah Hutan Lindung dan Cagar alam. Sehingga sangat mungkin eksplorasi geothermal dapat menyebabkan keseimbangan ekosistem terancam. Kemungkinan berkurangnya jumlah pohon untuk resapan air dan tempat tinggal hewan akan semakin sempit. Masalah ini perlu menjadi perhatian pemerintah.
Selain itu pembangunan pembangkit tenaga geothermal berdampak pada kestabilan tanah. Sebab, dalam prosesnya air akan diinjeksikan ke dalam lapisan batuan tanah kering dimana tidak ada air sebelumnya. Beberapa lokasi geothermal juga merupakan daerah resapan air yang berfungsi mengairi daerah sekitarnya. Sehingga kemungkinan yang dapat terjadi yaitu pengurangan debit air maupun kualitas sumber mata air tanah dan sungai-sungai di sekitar area pembangunan yang akan menyebabkan gangguan pada kehidupan biota perairan dan menurunkan kemampuan tanah untuk menahan air. Kebijakan mengenai tata kelola air perlu diperhatikan dengan baik untuk masalah ini.
Meskipun dikatakan energi panas bumi ramah lingkungan, namun upaya yang dilakukan untuk mendapatkan energi ini secara sederhana justru terlihat seperti merusak lingkungan. Sering kita mendengar diadakannya kegiatan ‘aksi menanam 1000 pohon’ atau tema-tema lingkungan lainnya. Akan tetapi penanaman pohon yang baru membutuhkan puluhan tahun untuk tumbuh dan memiliki akar yang kuat untuk menahan tanah tidak longsor ketika hujan sedangkan menjaga pohon yang sudah hidup sejak lama akan lebih efektif untuk mencegah terjadinya bencana alam. Apalagi kondisi hutan diIndonesia kian hari kian menipis akibat penebangan liar. Di musim hujan pun sering muncul berita mengenai daerah yang tertimpa longsor atau banjir bandang.
Saya percaya dan setuju dengan energi alternatif ini, karena Indonesia memiliki potensi energi geothermal yang besar dan peluang menguntungkan untuk mengembangkannya. Semua orang pasti ingin menikmati energi yang lebih ramah lingkungan dan harga yang terjangkau oleh masyarakat. Namun pemerintah harusnya menaruh perhatian yang lebih terhadap kawasan yang menjadi tempat eksplorasi energi geothermal. Jangan sampai seluruh perhatian tertuju pada upaya mengoptimalkan energi terbarukan sedangkan kelangsungan hidup ekosistem terancam. Jika boleh menganalogikan, masa tumbuh sebuah pohon-misalnya pohon jati-sehingga dapat dipanen (dipanen berarti baru boleh untuk ditebang) adalah 50-80 tahun, sedangkan menurut data Departemen ESDM, gas bumi di Indonesia di perkirakan hanya mencukupi untuk 61 tahun kedepan, cadangan batubara diperkirakan habis dalam waktu 147 tahun lagi, sedangkan cadangan minyak bumi hanya cukup untuk 18 tahun kedepan. Diantara kemungkinan-kemungkinan ini manakah yang seharusnya menjadi prioritas pemerintah?
Apapun kebijakan yang dibuat, harapan yang muncul semoga hasilnya berdampak baik bagi kehidupan masyarakat.

3 komentar:
Untuk hemat bahan bakar, satu keluarga dalam satu rumah satu mobil atau satu motor.. Nda boleh lebih.. Jadi nda macet juga :D
hmmmmhh.....isu ttg bahan bakar emang sllu mndatangkn pro kontra.
menurut pemikiranku yg awam ini,keknya sumber energi geothermal ini bgmnpun patut utk dcoba.
ntar efek smpingnya spt kerusakan ekisistm dsb ya akan jd prtimbangan jg dlm permodelan pembangkitnya kelak.
sy rs org2 yg ikt andil dlm permodelan itu pstilah org2 ekspert yg lbh tauk apa efek2 nya dn smatinya bs cerdas utk memikirkan bgmn kira2 meminimalisir efek2 negatif itu.
artinya,penerapan wacana ini jg butuh penggodokan yg matang sblm diujikan, krna taruhannya sgt bsr n vital.
Jd,,,,,smntara nunggu hsl energi geothermal ini bs dinikmati, yuk sm2 lakukan hal2 yg bs menghemat penggunaan BBM kt.
Hayooo, lampu yg lg nganggur d rmh hart sdh dimatiin blm?
Laptopnya yg lg gak kepake udh dimatiin belum?
Batere hpnya dah penuh tuh..chargernya jgn lupa dcabut yah...
#sori...komennya hmpr spnjang postingannya ;p
luluelf: yak setuju, kalau boleh yang belum punya kendaraan (seperti saya :p ) dikasih satu juga.. *eh
neNox: saya juga setuju dengan penggunaan energi geothermal karena memang banyak keuntungan dan manfaatnya. Tapi sejauh ini dari berita-berita yang muncul (secara pribadi belum pernah meneliti, hanya berdasarkan berita yang muncul. hehehe)tentang komplain masyarakat sekitar daerah yang dipakai untuk observasi energi geothermal ini mendapatkan beberapa dampak negatif. Seperti yang kutulis di postingan. Mungkin lebih baik kalau kebijakan dan pengaturan yang dibuat lebih jelas dan lebih baik supaya tidak merugikan warga sekitar daerah observasi. (hehehe, pengetahuanku masih sedikit sih jadi ini murni sok tau)
Poskan Komentar